in

Barongko, Camilan Mewah Dibalut Kesederhanaan

Saat ditanya, “Buah apa yang paling banyak variasi olahan camilannya dari dahulu kala hingga sekarang di Sulawesi Selatan (Sulsel)?”

Saya jawab, “pisang”.

Kalau ditanya, “Buah apa yang olahannya sarat kearifan lokal khas orang Sulsel?”

Lagi saya jawab, “pisang”.

Jika ditanya,“camilan khas tradisional berbahan dasar apa yang paling disukai di Sulsel?”

Selalu saya jawab, “pisang”.

Bagi kami orang Sulsel, disadari atau tidak, pisang adalah warisan. Yah pisang, tidak salah baca kok. Sejak dulu, buah ini selalu berjasa memenuhi kebutuhan gizi masyarakat di seantero wilayah Sulsel. Pikir saya, buah ini mudah dibudidayakan dan berbagai olahannya sudah melekat di hati masyarakat, termasuk saya tentunya.

Olahan pisang adalah tradisi. Kok bisa?

Sudah bukan rahasia bahwa dari dulu, orang Sulsel sangat lihai mengolah pisang. Hasilnya sangat beragam. Sebut saja ada Es Pisang Ijo, Pisang Epe’, Pallu Butung, Pisang Peppe’, Barongko, Bandang-bandang, Kambeng-kambeng, Sanggara Belanda, Keripik Pisang, Kolak Pisang dan masih banyak lagi yang belum saya tuliskan.

Tak lekang oleh zaman, saya percaya bahwa berbagai olahan buah pisang merupakan tradisi leluhur masyarakat Sulsel yang diwariskan turun temurun. Buktinya, olahan buah ini tidak pernah luput dijajakan terutama yang berbentuk camilan tradisional. Misalnya jika ke Makassar, kita dapat menemukan beragam jenis olahan pisang pada acara adat dan di berbagai tempat seperti Pantai Losari, pasar tradisional, toko kue, atau tempat khusus wisata kuliner tradisional. Bahkan, beberapa cafe, rumah makan, dan hotel juga turut menyajikan hidangan ini sebagai menu-menu andalannya.

Favorit saya

Saya menyukai hampir semua camilan tradisional Sulsel yang terbuat dari pisang. Tetapi, tetap saja saya mengunggulkan “Barongko” di antara semua camilan tersebut.

Menurut saya, barangko lah kue tradisional bugis lezat yang cocok di lidah saya. Bentuknya memanjang dan terbungkus rapi dalam lipatan daun pisang berbentuk trapesium. Jika diamati, barongko mirip dengan puding atau tahu. Namun, jika dicicipi teksturnya akan terasa berbeda. Barongko juga terkesan sederhana karena terbuat dari bahan-bahan yang mudah dijumpai sehari-hari seperti pisang kepok, gula pasir, telur, santan, dan garam. Melihat dari sisi lain, barongko mewah karena sensasi pada lidah yang diciptakannya. Alasan lainnya karena barongko sangat familier dengan kenangan masa kecil saya. Masih tersimpan di ingatan saya saat mama dan teman-temannya bersama-sama membuat barongko di teras rumah dan kemudian mengukusnya dalam sebuah wadah besar di atas tungku kayu bakar. Saya hanya mengamati dan dengan sabar menunggu barongko matang. Memori berkesan memang akan selalu dikenang.

Selain itu, saya pernah sekilas membaca di situs resmi Kemdikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) bahwa barongko sudah dipatenkan sebagai salah satu warisan budaya takbenda Indonesia. Kue tradisional bugis ini kononnya dahulu tak disajikan pada sembarang orang. Barongko adalah sajian mewah. Hanya para raja lah yang bisa menikmatinya. Pun juga tidak disajikan di sembarang suasana. Harus yang bernuansa sakral seperti acara pernikahan dan upacara adat.

Saat ini jauh lebih mudah. Barongko sudah bisa dinikmati kapan saja oleh semua kalangan. Umumnya, barongko paling mudah ditemukan di acara adat seperti pengantin, aqiqah, pengajian, khitanan, mappanre temme dan juga pada saat bulan Ramadan. Dan jika membahas mengenai bulan suci Ramadan, barongko akan terasa sangat dirindukan dan menjadi jajanan paling laku saat momen berbuka puasa. Orang Sulsel akan merasa ada yang salah jika tidak sekalipun menikmati barongko dalam sebulan menjalankan ibadah berpuasa.

Barongko paling pas dinikmati saat…

Saya merekomendasikan barongko dikonsumsi dingin saat baru dikeluarkan dari kulkas. Sensasi barongko yang legit manis khas dengan aroma yang berasal dari daun pisang yang membungkusnya akan terasa lebih segar dan gurih. Namun ada juga beberapa orang yang sangat suka jika barongko disajikan hangat segera setelah selesai dimasak. Bahkan, saat menulis ini, seorang teman saya menyeletuk bahwa barongko paling pas dinikmati saat berada di pesta pernikahan karena rasanya berbeda dan jauh lebih nikmat daripada yang dibeli di toko. Jadi, mau coba pakai cara yang mana nih?

Jika ke Sulsel jangan lupa mencicipi barangko yah? Coba dulu, jatuh hati kemudian.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Kuliner Juara Kampung Halaman